Conference Background

Malaya and Indonesia: Links and Fractures in Political and Historical Thoughts

The concept of “Malaya” is not only hinged on space,  but also takes the significance of various spirits, trends, ideologies, social movements into consideration. The first “Revisiting Malaya” conference was held in August 2014 in Kuala Lumpur. During the conference, the intellectuals and participants had re-examined the significance of anti-colonial efforts, the struggles for independence and the “Malayan consciousness”. These were the problematic issues that concerned the formation of Malaya. The issues have influenced the structure of contemporary politics, as well as historical and social developments.

The second Revisiting Malaya conference is intended to continue our discussion in Yogyakarta—home to the cultural heritage of Indonesia. This time, we hope to retrieve the historical relationship between Malaya and Indonesia through different spatial vision. Whether it was in the past or in the present, Singapore, Malaysia, and Indonesia share emotional and material entanglements. The imagined communities projected in the terms like Melayu Raya, Indonesia Raya or Maphilindo show the inclusivity and exclusivity of geographical borders in the Nusantara world, where the shared identity of “Melayu”, Malay or Malayness is further embodied in the relevant discourse.

By weaving the symbiotic links between the three places, the conference hopes to be able to create a new landscape to revisit the historiography in political and cultural terms. From Jawi scripts in early modern period to decolonial struggles in the building of nation-state, how did people in Indonesia and Malaya share and exchange their ideas and thoughts? How did they react to the ideas of tradition, modernity, race and religion? By means of an intellectual vision that sees “history as reality”, the conference tends to revisit their historical links, as well as to examine the elements that tore them apart.

In view of this, the conference will comprise four panels: (1) Malay, Malayness and Identity in Nusantara; (2) Malay Literature and Culture; (3) Ideological Struggles; (4) People’s Movement and the making of Constitution; each of which seeks to address the political and cultural thoughts in different period of history.


Malaya dan Indonesia: Hubungan dan Retakan dalam Pemikiran Politik dan Sejarah

Konsep “Melayu” tidak hanya tergantung pada ruang, tetapi juga merambah beragam bentuk seperti jiwa zaman, tren, ideologi dan gerakan-gerakan sosial. Konferensi “Revisiting Malaya” yang pertama diselenggarakan pada Agustus 2014 di Kuala Lumpur. Pada konferensi tersebut, para ahli dan partisipan mengulas ulang pentingnya gerakan anti-penjajahan, usaha mencapai kemerdekaan dan “kesaradan Malaya.” Ini merupakan tema-tema problematis yang menyangkut dasar dari pembentukan ide mengenai Malaya. Tema-tema ini masih punya pengaruh dalam bentuk politik kontemporer di Malaysia dan Singapura sekarang, selain juga pengaruh perkembangan sejarah dan sosial.

Konferensi Revisiting Malaya kedua diharapkan melanjutkan diskusi tersebut di Yogyakarta – tempat yang kaya akan warisan kebudayaan Indonesia. Kali ini, kami berharap untuk mengingat kembali hubungan-hubungan historis antara Malaya dan Indonesia lewat bentuk pandangan spasial yang berbeda. Baik dimasa lalu maupun masa kini, Singapura, Malaysia dan Indonesia. Komunitas imajiner yang diproyeksikan dalam istilah Melayu Raya, Indonesia Raya atau Maphilindo memperlihatkan inklusivitas dan ekslusivitas batas-batas geografis di dunia Nusantara, dimana identitas bersama dari “Melayu”, Malay atau Kemelayuan selanjutnya diwujudkan di dalam wacana yang relevan.

Dengan menenun pertautan simbiotik antara tiga tempat, konferensi ini berharap dapat bisa membangun sebuah lanskap baru untuk meninjau kembali historiografi secara politis dan kultural. Dari naskah Jawi pada masa awal periode modern sampai perjuangan dekolonial dalam membangun negara-bangsa, bagaimana orang Indonesia dan Malaya berbagi dan bertukar ide dan pemikiran mereka? Bagaimana mereka bereaksi kepada ide-ide dari tradisi, modernitas, ras dan agama? Dengan cara visi intelektual yang melihat “sejarah sebagai realitas”, konferensi ini cenderung untuk meninjau kembali pertauran historis mereka, juga memerika elemen-elemen yang merobek mereka terpisah.

Dalam pandangan ini, konferensi ini akan terdiri dari empat panel: (1) Identitas Melayu dan Kemelayuan di Nusantara (2) Literatur dan Kebudayaan Melayu (3) Perjuangan-perjuangan ideologis (4) Pergerakan rakyat dalam membuat konstitusi; yang masing-masing berusaha untuk menunjukkan pemikiran politik dan kultural pada periode sejarah yang berbeda.


重返马来亚2.0

马来亚与印尼:政治与历史思想的连结与断裂

会议缘起

“马来亚”不仅是空间的概念,它也蕴含了各种流动的思潮、主义、行动方案等重要的思想观念。2014年8月份第一次于吉隆坡召开的“重返马来亚”国际研讨会中,学者与出席者重新审视了反殖和建国前的各种思潮、人民为反殖所付出的努力、为争取国家独立的各种反抗行动以及如何塑造“马来亚意识”等问题。这些在会议上激发讨论的问题意识与马来亚的形塑密切相关,并影响了当代马来亚的政治结构、历史发展与社会进程。

今年8月,第二场“重返马来亚会议” 即将于印尼文化底蕴浓厚的日惹召开。除了延续第一次会议的讨论之外,也希望通过转换另一种空间视野来挖掘马来亚和印尼的历史联系。尤其,不论过去或现在,新加坡、马来(西)亚和印尼仍共享许多情感与实际的纠葛等问题。这些问题包括过去在东南亚各区域的社群对国家和民族的想象与想望,有的社群提出“大马来由”(Melayu Raya)以泛马来人为连接共同体,而“大印度尼西亚”(Indonesia Raya)或“马菲印”(Maphilindo)则展现了马来群岛(Nusantara)在地理疆界及空间上的包容与排他。区域空间的概念也再现了以“马来由”(Melayu)、“马来”(Malay)或“马来性”(Malayness)为“想象共同体”的社群身份认同。

本次会议希望连接新马印三地的共生思考,从历史学的角度重访政治与文化思想的历史书写和诠释,期许打开新的思考图景。从爪夷文手稿到建立民族国家时的去殖民抗争,从早期文化到近代政治,印尼与马来亚人如何共享与交换理念和思想?人们如何回应传统、现代性、种族和宗教的概念?我们期盼会议上经由学者“即历史即现实”的“在场”视角,重返各区域间的历史连接,同时寻找将区域纽带撕裂的各种因素。

因此,本次的研讨会将从四个研讨组展开不同面向的讨论。第一,想象共同体:马来、马来性以及马来群岛的身份认同;第二,转型与改变:马来文学与文化;第三,国家建构:各种思潮的竞争;第四,国家建构:民众运动与宪法制定。

Advertisements