Panel Descriptions

Panel Descriptions

Panel 1
Topic: Imagined Communities: Malay, Malayness and Identity in Nusantara
What does the term “Malay” or “Melayu” signify? This panel seeks to trace the cultural and geographical borders in Nusantara, or the Malay world, as informed by the shared identity of Malayness. By mapping the thoughts revealed in terms like “Melayu Raya”, “Indonesia Raya” or “Maphilindo”, how do we contextualize the ideas of Malay nationalism, Islam and modernity in the imagined communities that connect the Malays? Also, in today’s multicultural and multiethnic society, how can we reconsider the underlying thinking principles and basis projected in those imagined communities?

Panel 2
Topic: Transformation and Change: Malay Literature and Culture
Classical Malay literature in the early modern period were inscribed/written in Jawi/Arabic scripts, which the Malay world shared. Centuries later, Malay literature developed into different faces in the new nation-states. Inspired by the “Angkatan 45” movement in Indonesia, ASAS 50, represented by the Malay writers in Malaya (including Singapore), initiated a literary movement “seni untuk masyarakat” (art for society) which began to see literary culture as a form of social protest. This trend embodied the postcolonial situation in Indonesia and Malaya during the 40s and 50s, which also saw the rise of leftist literature in the region. How do we re-examine the impacts of literary thoughts and actions in Malaya and Indonesia, and the transformations and changes that took place after the gaining of “nationality” in the region?

Panel 3
Topic: Nation-building: Ideological Struggles
After the end of WWII, different ideological struggles were in contention in Malaya and Indonesia. The restructuring of world order during the Cold War period had turned the region into a hotspot, in which colonial powers, anti-colonial efforts, communism, Islamization, counter-insurgency actions etc. had formed a hybrid picture of nation-building. In the wake of independence, how did the new nation-states negotiate and delineate borders amongst these ideologies? How do we uncover the interrelated thoughts and actions in Malay(si)a, Singapore and Indonesia during their anticolonial struggles towards independence? Also, can we transform these struggles and thoughts into common historical and thinking resources?
Panel 4
Topic: Nation-building: People’s Movement and the Making of Constitution
During the nation-building process, people’s movements were highly dynamic and widespread. How do we integrate the discourse of revolution and people’s movement into historiography? Had the thoughts and patterns in people’s movement during the period left us resources to examine our current problems? Also, in the process of making a Constitution, how was the idea of “citizenship” imagined in terms of negotiating political and cultural status of bumiputra, “pendatang” and orang asli? Furthermore, how different or similar is the concept of “nation” narrated in Rukun Negara (Malaysia) and Pancasila (Indonesia)?


Deskripsi Panel

Panel 1

Topik: Komunitas Imajiner: Melayu, Kemelayuan dan Identitas di Nusantara

Apa yang menandakan istilah “Malay”atau “Melayu”? Panel ini berusaha untuk menelusuri batasan kultural dan geografis di Nusantara, atau dunia Melayu, seperti yang diinformasikan oleh identitas bersama dari Kemelayuan. Dengan memetakan pemikiran-pemikiran seperti “Melayu Raya”, “Indonesia Raya”atau “Maphilindo”, bagaimana kita mengkontekstualisakan ide-ide dari nasionalisme Melayu, Islam dan modernitas dalam komunitas imejiner yang berhubungan dengan orang-orang Melayu? Juga, dalam masyarakat multietnis dan multicultural hari ini, bagaimana bisa kita mempertimbangkan kembali prinsip-prinsip dan basis pemikiran yang mendasari dan diproyeksi di dalam komunitas-komunitas imajiner tersebut?

Panel 2

Topik: Transformasi dan Perubahan: Literatur dan Kebudayaan Melayu

Literatur Melayu klasik pada awal periode modern ditulis/digoreskan dalam bahasa Jawi/Arabic. Seabad setelahnya, literatur Melayu berkembang ke dalam bentuk yang berbeda di negara-bangsa. Diinspirasi oleh “Angkatan 45” di Indonesia, ASAS 50, diwakili oleh penulis Melayu di Malaya (termasuk Singapura), menginisiasi sebuah pergerakan literasi “seni untuk masyarakat”yang bermula untuk melihat budaya literasi sebagai sebuah bentuk dari protes sosial. Tren ini diwujudkan dalam situasi poskolonial di Indonesia dan Malaya pada kurun waktu 1940an dan 1950an, yang juga melihat kemunculan dari literatur kiri di wilayah ini. Bagaimana kita memeriksa kembali dampak-dampak dari pemikiran dan aksi-aksi literasi  di Malaya dan Indonesia dan transformasi-transformasi dan perubahan-perubahan apa yang terjadi setelah mereka memperoleh “kebangsaan”di kawasan itu?

Panel 3

Topik: Nation-building: Perjuangan-perjuangan ideologis

Setelah berakhirnya Perang Dunia ke II, terjadi pertarungan perjuangan-perjuangan ideologis yang berbeda di Malaya dan Indonesia. Restrukturisasi tatanan dunia pada masa Perang Dingin telah mengubah kawasan ini menjadi sebuah hotspot, dimana kekuatan colonial, usaha anti-kolonial, komunisme, Islamisasi dan aksi-aksi kontra-revolusioner dll telah membentuk sebuah hybrid picture dari nation-building. Setelah kemerdekaan, bagaimana negara bangsa baru ini menegoisasikan dan menggambarkan batasan-batasan diantara ideology-ideologi ini? Bagaimana kita membuka selubung dari pemikiran-pemikiran dan aksi-aksi yang saling berkaitan ini di Malay(si)a, Singapura dan Indonesia pada masa perjuangan anticolonial sampai kemerdekaan? Juga, apakah kita bisa mentransformasikan perjuangan-perjuangan ini ke dalam suatu sumber historis dan bepikir yang umum?

Panel 4

Topik: Nation-building: Gerakan-Gerakan Rakyat dan Pembuatan Konstitusi

Pada masa nation-building, gerakan-gerakan rakyat sangat dinamis dan tersebar luas. Bagaimana kita mengintegrasikan diskursus revolusi dan pergerakan rakyat ini ke dalam historiografi? Apakah pemikiran-pemikiran dan pola-pola dari pegerakan rakyat selama periode ini meninggalkan kita sumber to memerika problem-problem kita saat ini? Juga, dalam proses pembuatan konstitusi, bagaimana ide dari “kewarganegaraan”diimajinasikan dalam hal menegoisasikan status politik dan kultural dari bumiputera, “pendatang”dan orang asli? Lebih lanjut lagi, bagaimana perbedaan atau kesamaan dalam konsepsi “bangsa” yang dinarasikan pada Rukun Negara (Malaysia) dan Pancasila (Indonesia)?


四个研讨组的基本问题方向

(1)    想象共同体:马来、马来性以及马来群岛的身份认同

(Imagined Communities: Malay, Malayness and Identity in Nusantara)

“马来”与“马来由”意味着什么?此研讨组旨在追溯马来群岛或马来世界中的文化和地理疆界,探讨共享的身份认同——“马来性”。此外,通过绘制“想象共同体”所提出的“大马来由”(Melayu Raya)、“大印度尼西亚”(Indonesia Raya)或“马菲印”(Maphilindo)的理念和思想,进而思考马来民族主义、伊斯兰和现代性如何与“马来人”产生关联。在多元文化与多元族群的现今社会中,我们要如何反思“想象共同体”潜在的思维模式与基础?

(2)    转型与改变:马来文学与文化

(Transformation and Change: Malay Literature and Culture)

早期,马来世界共享了以爪夷文或阿拉伯文书写或记录的古典马来文学。然而,几个世纪之后马来文学因民族国家的建立逐渐发展出不同的面貌。受印尼文学流派“Angkatan 45”发起的文学运动所启迪,当时由马来亚(包括新加坡)马来作者组成的文学团体“ASAS 50”开始推行“为社会创作的艺术”(seni untuk masyarakat)的文学运动,开启了以文学文化创作抗议社会的形式。这文学运动再现了40、50年代的印尼和马来亚的后殖民状况。当时,两地的左翼文学开始崛起。我们该如何重新审视马新印文学思潮与文学运动的影响?另外,在作家或作家群体取得“国籍”之后,文学思潮、文学运动与马来文化有什么转型和改变?

(3)    国家建构:各种思潮的竞争

(Nation-building: Ideological Struggles)

第二次世界大战过后,各种思潮与意识形态于马来亚和印尼涌现,不仅互相竞争,也引发了不少争端。世界的结构和秩序经冷战之后重新洗牌,各个区域也沦为殖民势力、反殖抗争、共产主义、伊斯兰主义和反叛行动等的角力场所,描绘出国家建构过程中各势力角逐其中的多元面貌。随着这些国家的独立,新兴民族国家如何在各种思潮中进行协商、画出疆界?如何揭示马来(西)亚、新加坡和印尼在反殖民和争取独立的道路上,各种思潮与行动之间的相互关系?再者,能否将各种思潮和抗争转化为普遍的历史思考资源?

(4)    国家建构:民众运动与宪法制定

(Nation-building: People’s Movement and the Making of Constitution)

国家建构的过程中,民众运动极具活力且广泛传播。如何将革命话语和民众运动融入历史学的论述当中?民众运动积淀下来的思想与形式可否作为当今问题的借镜?此外,制定宪法的过程中,“公民权”的构想如何在不同政治与文化地位的身份,即“土著”(bumiputra)、“外来者”(pendatang)和“原住民”(orang asli)之间进行协商?民族与国家的概念在马来西亚的国家原则与印尼的建国原则中,有什么共同点和差异?

 

 

 

Advertisements